
KH. ALIMUDDIN MARZUKI SEBAGAI TELADAN DALAM KESEDERHANAAN
Pada Bulan Agustus, tepatnya tanggal 07 Agustus 2024 kabar duka menyelimuti Desa Ramban Wetan Kecamatan Cermee Kabupaten Bondowoso. Pesan melalui media sosial bertebaran diikuti status ucapan bela sungkawa atas Wafatnya KH. Alimuddin Marzuki. Tak berselang lama, kabar wafatnya KH. Alimuddin secara langsung tiba di Pesantren Raudlatul Falah. Nampak kesedihan cukup mendalam di wajah santri dan masyarakat sekitar.

Alumni Pondok Pesantren Raudlatul Falah dan masyarakat mulai berdatangan setelah mendengar wafatnya KH. Alimuddin. Bagaimana tidak, Dari banyaknya tokoh di Kecamatan Cermee, sosok KH. Alimuddin selaku pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Falah merupakan tokoh Kharismatik yang terkenal sederhana. Pengabdian dan perjuangannya memberikan pelayanan pendidikan melalui Pesantren mendapat apresiasi tinggi dari masyarakat.
Di kalangan elite nama KH. Alimuddin tidaklah tenar. Bahkan mungkin banyak dari mereka yang tidak tahu sosoknya. Akan tetapi, di kalangan masyarakat Ramban Wetan Khususnya Dusun Kranang dan sekitarnya, KH. Alimuddin merupakan tokoh sentral. Hal ini dapat dilihat dari hadirnya masyarakat dalam acara tahlil hingga hari ke-7. Ribuan masyarakat dari berbagai daerah dan kalangan berbondong-bondong hadir memberikan doa.
Semasa hidupnya, KH. Alimuddin memiliki kiprah sebagai pengerak dalam membumikan Al-Qur’an. Penekanan terhadap santrinya melalui sistem pendidikan di Pesantren, juga tentang cara membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar (berdasarkan ilmu tajwid). Saat masyarakat sekitar mengadakan Khotmil Qur’an misalnya, mayoritas masyarakat melibatkan santri atau alumni Pondok Pesantren Raudlatul Falah. Hal ini sangat dirasa bagaimana tataan KH. Alimuddin terhadap santri dalam memberikan pelajaran dan pemahaman Al-Qur’an. Menurut KH. Alimuddin, Istiqhomah membaca Al-Qur’an dengan bacaan tajwid yang baik dalam kehidupan sehari-hari dan mengamalkan isinya sudah sangat istimewa.
Sikap sosial KH. Alimuddin juga patut dijadikan teladan. Perilakunya terhadap masyarakat sangat mapan. Saat hadir di undangan, nyaris tidak pernah KH. Alimuddin meninggalkan acara sebelum benar-benar selesai. Menurutnya, tuan rumah acara sudah merencanakan acara jauh-jauh hari. Dengan hadir dan menyelesaikan acara hingga akhir merupakan penghormatan tinggi kepada tuan rumah. Sungguh adab yang sangat mulia yang KH. Alimuddin tunjukkan. Sekilas nampak sederhana, tapi sangat membekas dan bermakna.
Selain itu, dalam menerima dan menghormati tamu, KH. Alimuddin selalu menampakkan wajah riang kala menemui. Bahkan, saat KH. Alimuddin beraktivitas di luar, kemudian dikabarkan kepadanya bahwa ada tamu di griyanya, seketika itu juga KH Alimuddin bergegas pulang. Kembali lagi, wajah gembira tanpa ada rasa kesal sedikitpun ditunjukkan. Pertanda bahwa KH. Alimuddin benar-benar memuliakan tamu yang hadir menemuinya.
Terakhir bagi penulis, sosok KH. Alimuddin merupakan pengejawantahan dari teori Akhlakul Karimah. Tidak banyak kata atau pesan bijak yang disampaikan untuk dijadikan pegangan. Baik kepada santri, alumni atau masyarakat secara umum. Melainkan, KH. Alimuddin lebih menunjukkan ilmu etika melalui sifat dan sikap. Dari pribadi KH. Alimuddin diharapkan, santri, alumni, dan masyarakat untuk mampu menjadi individu yang mengedepankan akhlak, penyabar dan gigih dalam perjuangan. Serta, menjadi pribadi yang sederhana. Allahummagfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu anhu.
Tag:Raudlatul Falah



